Rabu, 22 Februari 2012

EFEKTIFITAS MODEL COOPERATIF LEARNING TIPE GROUP INVESTIGATION DAN TIPE LISTENING TEAM DENGAN PEMANFAATAN LKS TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA POKOK BAHASAN OPERASI BENTUK ALJABAR SISWA KELAS VIII SEMESTER GASAL SMP N 01 GRINGSING BATANG TAHUN AJARAN 2011/2012

 BAB 1
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu rangkaian kegiatan komunikasi antar manusia sehingga manusia itu tumbuh sebagai pribadi yang utuh. Pendidikan memegang peranan yang penting dalam era globalisasi karena fisi dan misi pendidikan sekarang lebih ditekankan pada pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas, dan manusia tumbuh melalui belajar.
Dalam usaha peningkatan sumber daya manusia yang berkualaitas diperlukan strategi belajar mengajar yang diharapkan mampu memperbaiki sistem pendidikan yang telah berlangsung selama ini. Salah satu tolak ukur keberhasilan seorang guru adalah bila dalam pembelajaran mencapai hasil yang optimal. Keberhasilan ini sangat bergantung pada kemampuan guru untuk mengelola proses belajar mengajar. Hal ini memiliki makna bahwa proses belajar  mengajar merupakan kegiatan yang perlu mendapatkan perhatian lebih karena pada proses belajar mengajar diharapkan terjadi interaksi langsung antara guru dengan siswa dan interaksi siswa dengan siswa.
1
 
Matematika sebagai salah satu ilmu dasar, baik aspek terapannya maupun aspek penalarannya, mempunyai peranan penting dalam upaya penguasaan ilmu dan teknologi. untuk itu matematika sekolah perlu difungsikan sebagai wahana untuk menumbuhkembangkan kecerdasan, kemampuan, keterampilan, serta untuk membe,mntuk kepribadian siswa.
Proses belajar matematika tidak selamanya berjalan efektif, karena masih ada beberapa siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar matematika. Kesulitan belajar matematika terutama disebabkan oleh sifat khusus matematika yang memiliki sifat abstrak. Sifat inilah yang perlu disadari dan dicari jalan keluar sehingga siswa dapat mempelajari matematika dengan mudah  dan menyenangkan.
Salah satu masalah yang mendasar dalam proses belajar matematika adalah masih rendahnya motivasi siswa yang mengakibatkan kurangnya rasa ingin tahu siswa terhadap matematika sehingga berpengaruh terhadap hasil belajar matematika. Rendahnya prestasi matematika siswa tentu tidak lepas dari faktor guru dan siswa itu sendiri selain faktor-faktor yang lain. Sebagai calon guru matematika, disamping memjelaskan konsep prinsip, dan teorema, guru juga harus dapat mengajarkan matematika dengan menciptakan kondisi yang baik agar keterlibatan siswa secara aktif dapat berlangsung.
Untuk itu guru mencoba mengatasi permasalan tersebut dengan mengganti model pembelajaran konvensional dengan pembelajaran kooperatif. Diharapkan dengan pembelajaran kooperatif dapat mendorong siswa aktif menentukan sendiri pengetahuannya melalui keterampilan proses. Sehingga prestasi belajar matematika diharapkan dapat meningkat yang akan membawa pengaruh positif yaitu penguasaan konsep dan keterampilannya. Dalam belajar kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan materi dan saling membantu antar anggota kelompok mencapai ketuntasan.
Model pembelajaran kooperatif terdiri dari berbagai macam tipe diantaranya adalah Investigasi Kelompok (group investigation) dan Tim Pendengar(Listening team). Dengan menggunakan model pembelajaran investigasi kelompok, akan terjadi suatu interaksi antar individu dalam kelompok. Dalam setiap kelompok akan ada kerjasama yang positif dan saling membantu antar anggota kelompok sehingga siswa merasa senang dan antusias selama proses pembelajaran dan dapat menyelesaikan masalah. Model Pembelajaran Tim Pendengar merupakan model yang menerapkan empat strategi pemahaman mandiri yaitu :, menyusun pertanyaan, nemjawab pertanyaan yang telah diberikan, menentang poin-poin yang tidak disetujui atau tidak bermanfaat kemudian siswa menyimpulkan apa yang telah dipelajarinya. melalui media LKS Kedua tipe model pembelajaran kooperatif ini dalam pembelajaran matematika diharapkan dapat membantu siswa meningkatkan hasil belajar matematika. Siswa secara individu membangun kepercayaan diri terhadap kemampuannya untuk menyelesaikan masalah-masalah matematika, sehingga akan mengurangi bahkan menghilangkan rasa cemas terhadap mata pelajaran matematika.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Efektifitas model Cooperatif Learning tipe Group Investigation dan tipe Listening Team dengan pemanfaatan LKS terhadap hasil belajar matematika pokok bahasan faktorisasi suku aljabar siswa kelas VIII semester gasal SMP N 01 Gringsing Batang tahun ajaran 2011/2012

B.       Penegasan Istilah
Penegasan istilah dalam skripsi ini bertujuan agar tidak terjadi salah penafsiran terhadap judul diatas dan memberikan gambaran yang lebih jelas kepada pembaca. Adapun istilah-istilah yang perlu dijelaskan antara lain sebagai berikut:
1.         Efektifitas.
Efektifitas adalah dapat membawa hasil, berguna ( tentang usaha atau  tindakan).(Djamarah, 2002: 12).
Adapun yang dimaksud efektifitas dalam penelitian ini yaitu adanya perbedaan hasil belajar siswa yang diberi model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dan Listening Team lebih baik dari pada hasil belajar matematika dengan pembelajaran konvensionl. pada pokok bahasan faktorisasi suku aljabar siswa kelas VII semester gasal SMP N 01 Gringsing Batang tahun ajaran 2011/2012
2.         Model pembelajaran
Soekamto (dalam Trianto, 2007: 5) mengemukakan model pembelajaran adalah:”Kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pengajar bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar.”

3.         Model Pembelajaran kooperatif (Cooperatif Learning)
Pembelajaran kooperatif adalah konsep yang meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru, dimana guru menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan  serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang untuk membantu peserta didik menyelesaikan masalah yang dimaksud. (Suprijono, 2009: 54).
4.         Metode Investigasi kelompok (Group Investigation)
Pembelajaran dengan metode group investigation dimulai dengan pembagian kelompok. Selanjutnya guru beserta peserta didik memilih topic-topik tertentu dengan permasalahan-permasalahan yang dapat dikembangkan dari topic-topik itu. Sesudah topic dan permasalahannya disepakati, peserta didik beserta didik menentukan metode penelitian  yang dikembangkan untuk memecahkan masalah. (Suprijono, 2009 : 93)
5.         Metode Tim Pendengar (Listening Team)
Pembelajaran dengan metode listening team diawali dengan penerapan materi pembelajaran oleh guru. Selanjudnya guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok. Setiap kelompok mempunyai peran masing-masing. Kelompok pertama merupakan kelompok penanyan kelompok kedua merupakan kelompok penjawab atau pendukungn kelompok ketiga merupakan kelompok penentang, dan kelompok keempat merupakan kelompok penarik kesimpulan. (Suprijono, 2009 : 96)
6.         Lembar Kerja Siswa
Lembar artinya lembaran jawaban untuk digunakan para siswa
(Tim Penyusun KBBI, 2006: 656).
Kerja artinya kegiatan melakukan sesuatu
(Tim Penyusun KBBI, 2006:554).
Siswa artinya murid atau pelajar
(Tim Penyusun KBBI, 2006:1077).
Lembar Kerja Siswa adalah Bagian modul berisi soal yang harus dijawab oleh siswa (Tim Penyusun KBBI, 2006:672).
7.         Hasil belajar
Hasil belajar adalah perubahan perilakusecara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek potensi kemanusian saja. Artinya, hasil pembelajaran yang dikategorisasi oleh para pakar pendidikan sebagaimana tersebut diatas tidak dilihat secara fragmentaris atau terpisah, melainkan komperhensif.. (Agus Suprijono, 2009:7)
Dalam penelitian ini hasil belajar yang dimaksud adalah akibat atau perolehan dari kegiatan belajar yang menggunakan model pembelajaran cooperative tipe investigasi kelompok dan tipe tim pendengar dengan pemanfaatan LKS pada materi faktorisasi suku aljabar matematika pokok bahasan faktorisasi suku aljabar siswa kelas VII SMP N 01 Gringsing, Batang tahun ajaran 2011/2012
8.         Matematika
Matematika berkenaan dengan ide–ide  atau konsep–konsep abstrak yang tersusun secara hirarkis dan penalarannya deduktif yang akan membawa akibat kepada bagaimana terjadinya proses belajar matematika. ( Hudoyo, 1990: 4 )
Matematika yang dimaksud dalam penelitian ini adalah matematika yang diajarkan di sekolah sesuai dengan kurikulum matematika SMP.
9.         Faktorisasi Suku Aljabar
Materi Faktorisasi Suku Aljabar dalam standar kompetensi kurikulum 2011/2012 adalah salah satu materi didalam mata pelajaran matematika yang diajarkan pada siswa kelas VIII semester gasal.
Berdasarkan dari uraian penegasan istilah, secara keseluruhan maksud dari judul skripsi ini adalah usaha atau hasil dari Model Pembelajaran Kooperatif dengan metode Group investigation dan metode Listening Team pada pokok bahasan Faktorisasi Suku Aljabar. Ditandai dengan peningkatan hasil belajar matematika siswa kelas VIII semester gasal SMP N 01 Gringsing, Batang tahun ajaran 2011 / 2012




C.      Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas  maka dirumuskan  permasalahan  sebagai berikut :
1.         Apakah ada perbedaan hasil belajar matematika antara siswa yang diberi model pembelajaran kooperatif tipe group investigation, siswa yang diberi model pembelajaran kooperatif tipe listening  team dan siswa yang diberi model pembelajaran konvensional dengan pemanfaatan LKS pokok bahasan Faktorisasi Suku Aljabar pada siswa kelas VIII SMP N 01 Gringsing, Batang tahun ajaran 2011/2012 ?
2.         Apakah ada perbedaan hasil belajar matematika yang diberi model pembelajaran kooperatif tipe group investigation dan tipe listening  team dengan pemanfaatan LKS pokok bahasan Faktorisasi Suku Aljabar pada siswa kelas VIII SMP N 01 Gringsing, Batang tahun ajaran 2011/2012 ?
3.         Apakah ada perbedaan hasil belajar matematika yang diberi model pembelajaran kooperatif tipe group investigation lebih baik dari pembelajaran konvensional dengan pemanfaatan LKS pokok bahasan Faktorisasi Suku Aljabar pada siswa kelas VIII SMP N 01 Gringsing, Batang tahun ajaran 2011/2012 ?
4.         Apakah ada perbedaan hasil belajar matematika yang diberi model pembelajaran kooperatif tipe listening  team lebih baik dari pembelajaran konvensional dengan pemanfaatan LKS pokok bahasan Faktorisasi Suku Aljabar pada siswa kelas VIII SMP N 01 Gringsing, Batang tahun ajaran 2011/2012 ?
D.      Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.      Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan diatas,maka  tujuan dari penelitian ini adalah:
a.         Mengetahui ada atau tidaknya perbedaan hasil belajar matematika yang diberi model pembelajaran kooperatif tipe group investigation, tipe listening  team dan pembelajaran konvensional dengan pemanfaatan LKS pokok bahasan Faktorisasi Suku Aljabar pada siswa kelas VIII SMP N 01 Gringsing, Batang tahun ajaran 2011/2012.
b.         Mengetahui ada atau tidaknya perbedaan hasil belajar matematika yang diberi model pembelajaran kooperatif tipe group investigation dan tipe listening  team dengan pemanfaatan LKS pokok bahasan Faktorisasi Suku Aljabar pada siswa kelas VIII SMP N 01 Gringsing, Batang tahun ajaran 2011/2012.
c.         Mengetahui hasil belajar matematika yang diberi model pembelajaran kooperatif tipe group investigation lebih baik dari pembelajaran konvensional dengan pemanfaatan LKS pokok bahasan Faktorisasi Suku Aljabar pada siswa kelas VIII SMP N 01 Gringsing, Batang tahun ajaran 2011/2012.
d.        Mengetahui hasil belajar matematika yang diberi model pembelajaran kooperatif tipe listening team lebih baik dari pembelajaran konvensional dengan pemanfaatan LKS pokok bahasan Faktorisasi Suku Aljabar pada siswa kelas VIII SMP N 01 Gringsing, Batang tahun ajaran 2011/2012.
2.      Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan memberikan hasil dan manfaat bagi semua pihak diantaranya sebagai berikut:
a.         Bagi guru.
1)      Memperoleh pengetahuan untuk meningkatkan keterampilan memilih strategi pembelajaran yang bervariasi.
2)      Memberikan informasi sebagai bahan pertimbangan pemilihan model pembelajaran matematika yang efektif terutama dalam meningkatkan aktifitas dan kreatifitas belajar siswa.
3)      Dapat memberikan wawasan kepada guru dan calon guru, khususnya guru matematika tentang model pembelajaran yang efektif.
b.         Bagi Siswa
1)      Dapat meningkatkan motivasi dan minat belajar serta kreatifitas siswa, khususnya pada pelajaran matematika.
2)      Dapat meningkatkan kerjasama siswa dalam kelompok belajar di sekolah.
3)      Dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa di sekolah.


c.    Bagi Sekolah
Memberi sumbangan yang baik untuk sekolah dalam rangka perbaikan sistem pembelajaran dan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
d.   Bagi Peneliti
1)      Akan diperoleh pemecahan masalah dalam penelitian sehingga akan diperoleh suatu model pembelajaran yang dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa.
2)      Mendapat pengalaman dan pengetahuan dalam melakukan penelitian dan melatih diri dalam menerapkan ilmu pengetahuan khususnya tentang konsep matematika.

E.       Sistematika Penulisan Skipsi
Untuk mempermudah pembaca memahami pokok-pokok permasalahan yang ada dalam penelitian ini, maka dalam laporan peneliti ini secara garis besar dibagi menjadi tiga bagian yaitu bagian awal, bagian isi, dan bagian akhir. Bagian awal memuat halaman judul, lembar persetujuan, lembar pengesahan, abstraksi, motto dan persembahan, kata pengantar, daftar isi, daftar lampiran, dan daftar tabel.
Bagian isi terdiri dari 5 bab yang masing-masing bab terdiri dari sub bab, adapun susunannya sebagai berikut :
BAB I   : Pendahuluan, yang berisi latar belakang, penegasan istilah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, sistematika penulisan skripsi.
BAB II : Landasan teori dan hipotesis, berisi tentang teori belajar, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar, hasil belajar, metode pembelajaran, materi lingkaran, kerangka berfikir dan hipotesis.
BAB III :  metode penelitian, meliputi penentuan objek dan subjek penelitian yang meliputi populasi dan sampel, metode pengumulan data, variabel penelitian, analisis uji coba instrumen, metode analisis data.
BAB IV  : Hasil Penelitian, meliputi Tahap Persiapan, Tahap Pelaksanaan, Penelitian, Uji Coba Instrumen, Laporan Data, Analisis Hasil Penelitian dan Pembahasan Hasil Penelitian.
BAB V    : Penutup, yang meliputi kesimpulan dan saran.









BAB II
LANDASAN TEORI
A.      Pembelajaran Matematika
Pembelajaran, yakni suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa, sehingga tingkah laku siswa berubah ke arah yang lebih baik. Sedangkan menurut aliran kognitif, pembelajaran adalah cara guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir agar mengenal dan memahami apa yang dapat dipelajari apa yang sedang terjadi
(Darsono, 2000 : 24).
Berdasarkan etimologis dalam (Suherman, 2003 : 17) perkataan matematika berarti “ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar”. Hal ini dimaksudkan bukan berarti ilmu lain diperoleh tidak melalui penalaran, akan tetapi dalam matematika lebih menekankan aktivitas dalam dunia rasio (penalaran), sedangkan dalam ilmu lain lebih menekankan hasil observasi atau eksperimen disamping penalaran. Matematika terbentuk sebagai hasil pemikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses, dan penalaran.
Belajar matematika bagi para siswa, juga merupakan pembentukan pola pikir dalam pemahaman suatu pengertian maupun dalam penalaran suatu hubungan diantara pengertian-pengertian itu. (Suherman, 2003 : 55)
12
 
Tujuan umum pembelajaran matematika pada jenjang pendidikan dasar dan menengah yaitu memberikan penekanan pada keterampilan dalam penerapan matematika, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam membantu mempelajari ilmu pengetahuan lainnya.
Menurut Suherman (2003 : 57 ) tujuan pembelajaran matematika di SMP adalah agar:
1.         siswa memiliki kemampuan yang dapat dialihgunakan melalui kegiatan matematika;
2.         siswa memiliki pengetahuan matematika sebagai bekal untuk melanjutkan kependidikan menengah;
3.         siswa memiliki keterampilan matematika sebagai peningkatan dan perluasan dari matematika sekolah dasar untuk dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari;
4.         siswa memiliki pandangan yang cukup luas dan memiliki sikap logis, kritis, cermat, dan disiplin serta menghargai kegunaan matematika.
Karakteristik pembelajaran matematika di sekolah sebagai berikut (Suherman, 2003 : 65-66).
a.         Pembelajaran matematika adalah berjenjang (bertahap).
Bahan kajian matematika diajarkan secara berjenjang/ bertahap, yang dimulai  dari hal yang konkrit dilanjutkan ke hal yang abstrak, dari hal yang sederhana ke hal yang kompleks atau dari konsep yang mudah ke konsep yang lebih sukar.
b.        Pembelajaran matematika mengikuti metode spiral.
Dalam setiap memperkenalkan konsep dan bahan yang baru perlu memperhatikan konsep/ bahan yang dipelajari siswa sebelumnya. Bahan yang baru selalu dikaitkan dengan bahan yang telah dipelajarinya dan sekaligus untuk mengingatkannya kembali.
c.         Pembelajaran matematika menekankan pola pikir deduktif.
Pemahaman konsep-konsep matematika melalui contoh-contoh dengan sifat yang sama yang dimiliki dan yang tidak dimiliki oleh konsep-konsep tersebut merupakan tuntutan pembelajaran matematika.
d.        Pembelajaran matematika menganut kebenaran konsistensi.
Kebenaran dalam matematika sesuai dengan struktur deduktif aksiomatiknya. Kebenaran-kebenaran dalam matematika pada dasarnya merupakan kebenaran konsistensi, tidak ada pertentangan antara kebenaran suatu konsep dengan konsep lainnya.
1.      Pengertian Belajar
Belajar merupakan kegiatan bagi setiap orang. Belajar menunjuk pada apa yang harus dilakukan seseorang sebagai subyek yang menerima pelajaran. Belajar pada hakikatnya adalah perubahan yang terjadi di dalam diri seseorang setelah berakhirnya aktivitas belajar ( Djamarah , 2006 : 38).
Beberapa ahli yang mendefinisikan belajar, diantaranya sebagai berikut :
a.         Gagne
Belajar adalah perubahan disposis atau kemampuan yang dicapai seseorang melalui aktivitas. Perubahan disposisi tersebut bukan diperoleh langsung dari proses pertumbuhan seseorang secara alamiah ( Suprijono , 2009:2)

b.        Travers
Belajar adalah  proses menghasilkan penyesuian tingkah laku.                ( Suprijono , 2009:2)
c.         Cronbach
Learning is shown by a change in behavior as a result of experience.
( Belajar adalah perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman).    ( Suprijono , 2009:2)
d.        Harold Spears
Learning is to be observed, to read, to imitate, to try something themselves, to listen, to following direction. (Dengan kata lain , bahwa belajar adalah mengamati, membaca, meniru, mencoba sesuatu, mendengar dan mengikuti arah tertentu). (Suprijono , 2009:2)
e.         Geoch
Learning is change in performance as a result of practice. (Belajar adalah perubahan performance sebagai hasil latihan)
( Suprijono , 2009:2)        
f.         Morgan
Learning is any relatively permanent change in behavior that is a result of past experience. (Belajar adalah perubahan perilaku yang bersifat permanen sebagai hasil dari pengalaman.) (Suprijono , 2009:3)
Dari berbagai penjelasan dan pendapat para tokoh di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian belajar adalah proses perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman, latihan, melihat , mengamati, mendengar, membaca setelah berakhirnya aktivitas belajar. Belajar merupakan serangkaian kegiatan jiwa dan raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya.
Adapun ciri – ciri belajar adalah sebagai berikut:
( Djamarah : 2002 : 15 - 16 )
a.    Perubahan yang terjadi secara sadar
Individu yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu atau sekurang – kurangnya individu merasakan telah terjadi adanya suatu perubahan dalam dirinya.
b.    Perubahan dalam belajar bersifat fungsional
Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri individu berlangsung terus menerus dan tidak statis. Suatu perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya dan akan berguna bagi kehidupan atau proses belajar selanjutnya.
c.    Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif
Makin banyak usaha belajar yang dilakukan, makin banyak dan makin baik perubahan yang diperoleh. Perubahan aktif berarti bahwa perubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya melainkan karena usaha individu itu sendiri.
d.   Perubahan dalm belajar bukan bersifat sementara
Perubahan yang terjadi karena proses belajar bersifat menetap atau permanen. Hal ini berarti tingkah laku yang terjadi setelah belajar akan bersifat menetap.
e.    Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah
Perubahan tingkah laku itu terjadi karena adanya tujuan yang akan dicapai. Perubahan belajar terarah pada perubahan tingkah laku yang benar – benar disadari.
f.     Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku
Perubahan yang diperoleh individu setelah nelalui suatu proses belajar meliputi perubahan keseluruhan tingkah laku. Jika seseorang belajar sesuatu, sebagai hasilnya ia akan mengalami perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap kebiasaan , kerampilan, pengetahuan dan sebagainya.
2.      Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru. Secara umum pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru, di mana guru menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang untuk membantu peserta didik menyelesaikan masalah yang dimaksud. (Suprijono,Agus. 2009 :55)
Pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekadar belajar dalam kelompok . Ada unsur-unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang asal-asalan. Pelaksanaan prosedur model pembelajaran kooperatif dengan benar akn memungkinkan guru mengelolakelas lebih efektif. Model pembelajaran kooperatif akan dapat menumbuhkan pembelajaran efektif yaitu pembelajaran yang bercirikan: (1) “memudahkan siswa belajar” sesuatu yang “bermanfaat” seperti fakta, ketrampilan, nilai, konsep dan bagaimana hidup serasi dengan sesama; (2) pengetahuan, nilai, dan ketrampilan diakui oleh mereka yang berkompeten menilai.
Roger dan David Johnson (Suprijono 2009: 58-61) mengatakan bahwa tidak semua belajar kelompok bias dianggap pembelajaran kooperatif. Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur dalam model pembelajaran kooperatif harus diterapkan.
Lima unsur tersebut adalah:
a)        Saling Ketergantungan Positif
Beberapa cara menumbuhkan saling ketergantungan positif yaitu:
1)        Peserta didik harus bekerja sama untuk dapat mencapai tujuan, tanpa kebersamaan tujuan mereka tidak akan tercapai.
2)        Semua anggota kelompok mendapatkan penghargaan yang sama jika kelompok mereka berhasil mencapai tujuan.
3)        Mereka belum dapat menyelesaikan tugas sebelum menyatukan perolehan tugas menjadi satu.
4)        Setiap peserta didik ditugasi dengan tugas-tugas yang saling mendukung dan saling berhubungan, saling melengkapi, dan saling terikat dengan peserta didik lain dalam kelompok.  
b)        Tanggung Jawab Perseorangan
Artinya, setelah mengikuti kelompok belajar bersama, anggota kelompok harus dapat menyelesaikan tugas yang sama.
c)        Interaksi Promotif
Ciri-ciri interaksi promotif adalah:
a.         Saling membantu secara efektif dan efisien.
b.         Saling member informasi dan sarana yang diperlukan.
c.         Memproses informasi bersama secara lebih efektif dan efisien.
d.        Saling mengingatkan.
e.         Saling membantu dalam merumuskan dan mengembangkan pikiran serta meningkatkan kemampuan wawasan terhadap masalah yang dihadapi.
f.          Saling percaya.
g.         Saling memotivasi untuk memperoleh keberhasilan bersama.
d)       Ketrampilan Sosial
Untuk mengkoordinasikan kegiatan peserta didik dalam pencapaian tujuan peserta didik harus:
a.         Saling mengenal dan mempercayai
b.         Mampu berkomunikasi secara akurat dan tidak ambisius
c.          Saling menerima dan mendukung
e)        Pemrosesan Kelompok
Dari pemrosesan kelompok dapat diketahui siapa di antara anggota kelompok yang sangat membantu dan tidak membantu karena terlihat dari urutan atau tahapan kegiatan kelompok.
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar berupa prestasi akademik, toleransi, menerima keragaman, dan pengembangan ketrampilan social.(Suprijono. 2009: 58-61)
3.      Pengertian Metode Group Investigation
Group Investigationn merupakan  salah satu bentuk model pembelajaran kooperatif  yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas siswa untuk mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari melalui bahan-bahan yang tersedia, misalnya dari buku pelajaran atau siswa dapat mencari melalui internet.  Siswa dilibatkan sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Tipe ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok. Model Group Investigation dapat melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berfikir mandiri. Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaranakademis dan mereka melibatkan diri dalam pemecahan masalah sosial. (Sudrajat:2009).
Dalam Group Investigation, para siswa bekerja melalui enam tahap yaitu :
a.       Tahap 1 : Mengidentifikasikan Topik dan Mengatur Siswa ke dalam kelompok
1)      Para siswa meneliti beberapa sumber, mengusulkan sejumlah topik
2)      Para siswa bergabung dengan kelompoknya untuk mempelajari topic yang telah mereka pilih.
3)      Komposisi kelompok didasarkan pada ketertarikan siswa dan harus bersifat heterogen.
4)      Guru membantu dalam pengumpulan informasi dan memfasilitasi pengaturan.
b.      Tahap 2 : Merencanakan Tugas yang akan Dipelajari
Para siswa merencanakan bersama mengenai tujuan dan pembagian tugas.
c.       Tahap 3 : Melaksanakan Investigasi
1)          Para siswa mengumpulkan informasi, menganalisis data, dan membuat kesimpulan.
2)          Para siswa saling bertukar, berdiskusi, mengklarifikasi, dan mensistesis semua gagasan.
d.      Tahap 4 : Menyiapkan Laporan Akhir
1)      Anggota kelompok merencanakan apa yang akan mereka laporkan, dan bagaimana mereka akan membuat presentasi mereka.
2)      Wakil - wakil kelompok membentuk sebuah panitia acara untuk mengkoordinasikan rencana - rencana presentasi.
e.       Tahap 5 : Mempresentasikan Laporan Akhir
1)      Presentasi yang dibuat untuk seluruh kelas dalam berbagai macam bentuk.
2)      Bagian presentasi tersebut harus dapat melibatkan pendengarnya secara aktif.
3)      Para pendengar tersebut mengevaluasi kejelasan dan penampilan presentasi berdasarkan kriteria yang telah ditentukan sebelumnya oleh seluruh anggota kelas.
f.       Tahap 6 : Evaluasi
1)      Siswa saling memberikan umpan balik mengenai topic tersebut, mengenai tugas yang telah mereka kerjakan, mengenai keefektifan pengalaman - pengalaman mereka.
2)      Guru dan murid berkolaborasi dalam mengevaluasi pembelajaran siswa.
Kelebihan dan Kelemahan Model Group Investigation :
a)      Kelebihan
1)   Melibatkan proses berbagi ide dan pendapat serta salin tukar pengalaman melalui proses beragumen.
2)   Guru dan murid membangun proses pembelajaran yang didasarkan pada perencanaan mutual dari berbagai pengalaman, kapasitas, dan kebutuhan mereka masing – masing.
3)   Meningkatkan komunikasi dan interaksi komunikatif diantara temen satu kelas.
4)   Menggali potensi siswa dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah baik secara individu maupun kelompok.
5)   Terdapat pembagian tugas untuk masing – masing anggota kelompok sehingga siswa akan cenderung lebih aktif.
6)   Meningkatkan kemampuan guru dan siswa secara maksimal dalam mengeluarkan pendapat.
b)      Kelemahan
1)   Model paling sulit diterapkan karena paling kompleks.
2)   Tidak dapat diimplementasikan dalam lingkungan pendidikan yang tidak mendukung dialog interpersonal atau yang tidak memperhatikan dimensi rasa sosial dari pembelajaran di dalam kelas.
3)   Guru sering merasa kesulitan dalam merancang sebuah topik yang cakupannya luas.
4)   Guru harus membuat model komunikasi dan sosial sesuai dengan apa yang diharapkan siswa.
5)   Sebagian aspek yang berhubungan dengan kurikulum mungkin saja tidak dapat disesuaikan dengan group investigation.
6)   Sulitnya memperoleh dan meneliti sumber – sumber bagi siswa yang kurang aktif dikelas.
( Slavin, 2010 : 215 - 217  )
4.      Pengertian Pembelajaran Listening Team
Pembelajaran tim pendengar merupakan salah satu pembelajaran yang dimana siswa terlibat secara aktif dan terjadi hubungan yang dinamis serta saling mendukung antara siswa satu dengan siswa yang lain. Pembelajaran ini dimaksudkan untuk mengaktifkan seluruh siswa dengan membagi siswa secara berkelompok dan memberikan tugas yang berbeda kepada masing-masing kelompok tersebut.
Langkah-langkah Pembelajaran Tim Pendengar:
a.        Bagilah peserta didik menjadi 4 team dan berilah team-team ini dengan tugas-tugas sebagai berikut:
Team
Peran
Tugas
A
Penanya
Membuat pertanyaan

B

Pendukung/Setuju
Menjawab pertanyaan yang didasarkan pada poin-poin yang disepakati (membantu dan menjelaskannya mengapa demikian.


C


Penentang/Tidak setuju
Mengutarakan poin-poin yang tidak disetujui atau tidak bermanfaat dan menjelaskan mengapa demikian

D
Pembuat contoh &Penarik Kesimpulan
Membuat contoh/aplikasi materi yang disampaikan dan Menyimpulkan hasilnya.

b.      Guru menyampaikan materi pelajaran dengan menggunakan metode ceramah. Setelah selesai, kelompok tersebut diberi waktu untuk melaksanakan tugas sesuai dengan yang ditetapkan. Tugas guru hanya memberikan pengarahan agar empat kelompok tersebut mengemukakan tugasnya dengan baik. Selain itu, guru juga memberikan komentar jika ada pendapat kelompok yang menyimpang terlalu jauh dari materi pelajaran.
Kelebihan:
1)      Berguna untuk melatih tugas dan tanggung jawab pada kelompok.
2)      Lebih berorientasi pada keaktifan.
3)      Membentu meningkatkan minat dan prestasi siswa.
Kelemahan:
1)      Siswa cenderung tidak mau belajar dalam kelompok.
2)      Bagi guru, membutuhkan banyak persiapan (materi, dana, dan tenaga).
3)      Guru cenderung kesulitan dakam pengelolaan kelas.
Strategi ini membantu peserta didik dalam berkonsentrasi pada pelajaran yang menggunakan metode ceramah. Berguna juga untuk melatih tugas dan tanggung jawab pada kelompok. (Laelatus: 2011)
5.      Pembelajaran Konvensional
Pembelajaran konvensional yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pembelajaran dengan menggunakan metode ekspositori. Dalam metode ekspositori sama seperti metode ceramah dalam hal terpusatnya kegiatan pada guru sebagai pemberi informasi (bahan pelajaran). Tetapi pada metode ekspositori dominasi guru banyak berkurang, karena tidak terus menerus berbicara. Ia berbicara pada awal pelajaran, menerangkan materi dan contoh soal, dan pada waktu-waktu yang diperlukan saja. Murid tidak hanya mendengar dan membuat catatan. Tetapi juga membuat soal latihan dan bertanya kalau tidak mengerti. Guru dapat memeriksa pekerjaan murid secara individual, menjelaskan lagi kepada murid secara individual atau klasikal. (Suherman, Erman. 2001:171).
Kelemahan dari pembelajaran konvensional antara lain:
a.         Pelajaran berjalan membosankan, siswa hanya aktif membuat catatan saja.
b.         Kepadatan konsep-konsep yang diajarkan dapat berakibat siswa tidak mampu menguasai bahan yang diajarkan.
c.         Pengetahuan yang diperoleh melalui ceramah lebih cepat terlupakan.
d.        Ceramah menyebabkan belajar siswa menjadi belajar menghafal yang tidak menimbulkan pengertian
Kelebihan dari pembelajaran konvensional adalah siswa lebih memperhatikan guru dan pandangan siswa hanya tertuju pada guru.
6.      Lembar Kerja Siswa
Lembar Kerja Siswa (LKS) merupakan salah satu jenis alat Bantu pembelajaran, bahkan ada yang menggolongkan dalam jenis alat peraga pembelajaran matematika. Secara umum LKS merupakan perangkat pembelajaran sebagai pelengkap atau sarana pendukung pelaksanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajan (RPP). Lembar kerja siswa berupa lembaran kertas yang berupa informasi maupun soal – soal (pertanyaan – pertanyaan) yang harus dijawab oleh peserta didik. LKS ini sangat baik digunakan untuk menggalakkan keterlibatan peserta didik dalam belajar baik dipergunakan dalam penerapan metode terbimbing maupun untuk memberikan latihan pengembangan. Dalam proses pembelajaran matematika, LKS bertujuan untuk menemukan konsep atau prinsip dan aplikasi konsep atau prinsip.
LKS merupakan stimulus atau bimbingan guru dalam pembelajaran yang akan disajikan secara tertulis sehingga dalam penulisannya perlu memperhatikan kriteria media grafis sebagai media visual untuk menarik perhatian peserta didik. Paling tidak LKS sebagai media kartu. Sedangkan isi pesan LKS  harus memperhatikan unsur – unsur penulisan media grafis, hirarki materi (matematika) dan pemilihan pertanyaan – pertanyaan sebagai stimulus yang efektif dan efisien. (Hidayah, 2007:8)
Tujuan penggunaan LKS dalam proses belajar mengajara adalah sebagai berikut :
a.         Memberi pengetahuan, sikap dan keterampilan yang perlu dimiliki oleh peserta didik.
b.        Mengecek tingkat pemahaman peserta didik terhadap materi yang telah disajikan.
c.         Mengembangkan dan menerapkan materi pelajaran yang sulit disampaikan secara lisan.
Sedangkan manfaat yang diperoleh dengan penggunaan LKS dalam proses pembelajaran adalah :
a.    Mengaktifkan peserta didik dalam proses pembelajaran.
b.   Membantu peserta didik dalam mengembangkan konsep.
c.    Melatih peserta didik dalam menemukan dan mengembangkan keterampilan proses.
d.   Sebagai pedoman guru dan peseta didik dalam melaksanakan proses pembelajaran.
e.    Membantu peserta didik memperoleh catatan tentang materi yang dipelajari melalui kegiatan belajar.
f.    Membantu peserta didik untuk menambah informasi tentang materi yang dipelajari melalui kegiatan belajar secara sistematis.
Langkah – langkah dalam penyusunan LKS yang baik adalah sebagai berikut:
a.         Analisis kurikulum untuk menentukan materi yang memerlukan bahan ajar LKS.
b.         Menyusun peta kebutuhan LKS.
c.         Menentukan judul – judul LKS.
d.        Penulisan LKS.
1)        Rumusan kompetensi dasar LKS diturunkan dari buku pedoman khusus pengembangan silabus.
2)        Menentukan alat penilaian.
3)        Menyusun materi.

Ada dua macam lembar kerja siswa ( LKS ) yang dikembangkan dalam pembelajaran di sekolah.
a.         Lembar Kerja Siswa Tak Berstruktur
Lembar kerja siswa tak berstruktur adalah lembaran yang berisi sarana untuk materi pelajaran, sebagai alat bantu kegiatan peserta didik yang dipakai untuk menyampaikan pelajaran. LKS merupakan alat bantu mengajar yang dapat dipakai untuk mempercepat pembelajaran, memberi dorongan belajar pada tiap individu, berisi sedikit petunjuk, tertulis atau lisan untuk mengarahkan kerja pada peserta didik.
b.         Lembar Kerja Siswa Berstruktur.
Lembar kerja siswa berstruktur memuat informasi, contoh dan tugas – tugas. LKS ini dirancang untuk membimbing peserta didik dalam satu program kerja atau mata pelajaran, dengan sedikit atau sama sekali tanpa bantuan pembimbing untuk mencapai sasaran pembelajaran. Pada LKS telah disusun petunjuk dan pengarahannya, LKS ini tidak dapat menggantikan peran guru dalam kelas. Guru tetap mengawasi kelas, memberi semangat dan dorongan belajar dan memberi bimbingan pada setiap siswa. (Ahliswiwite:2007: 8-9)



7.      Uraian Materi Faktorisasi Suku Aljabar
Aljabar adalah suatu cabang penting dalam matematika. Kata aljabar berasal dari kata al-jabar yang diambil dari buku karangan Muhammad ibnu Musa al-Khowarizmi (780-850 M). yaitu kitap al-jabar waal-muqabalah yang nenbahas cara menyelesaikan persamaan-persamaan aljabar. Pamakaian nama aljabar ini sebagai penghormatan kepada Al-Khowarizmi atas jasa-jasanya dalam mengembangkan aljabar melalui karya0karya tulisannya. Al-Khowarizmi adalah ahli matematika dan ahli astronomi yang termasyhur yang tinggal di Baghdad irak) pada permulaan abad ke-9.
a.        Pengertian Suku pada Bentuk Aljabar
1)      . Suku Tunggal Dan Suku Banyak
Bentuk-bentuk seperti 4a,-5a2b, 2p + 5, 7p2pq, 8x – 4y + 9, dan 6x2 + 3xy – 8y disebut bentuk aljabar
Bentuk aljabar seperti 4a dan -5a2b disebut bentuk aljabar suku satu atau suku tunggal.
Bentuk aljabar seperti 2p + 5 dan 7p2pq disebut bentuk aljabar  suku dau atau binom.
                                    i.        Bentuk 2p + 5 terdiri dari dua suku, yaitu 2p dan 5.
                                  ii.        Bentuk 7p2pq juga terdiri dari dua suku, yaitu 7p2 dan – pq
Bentuk aljabar seperti 8x – 4y + 9 dan 6x2 + 3xy – 8y disebut bentuk aljabar suku tiga atau trinom.
                                    i.        Bentuk 8x – 4y + 9 terdiri atas tiga suku, yaitu 8x, - 4y dan 9
                                  ii.        Bentuk 6x2 + 3xy – 8y juga terdiri dari tiga suku, yaitu 6x2, 3xy dan -8y
Bentuk aljabar yang terdiri dari tiga suku atau lebih disebut suku banyak atau polinom, misalnya:
                                    i.        2a – 5ab + 4c                          ® suku tiga
                                  ii.        P3 + 2p2 – 7p -8                       ® suku empat             suku banyak
                                iii.        9x3 – 4x2y 5x +8y – 7y2          ® suku lima
2)      1.1.2.siku-suku sejenis
Perhatikan bentuk aljabar 5a dan -7xy + 3!
Pada bentuk 5a, 5 disebut koefesien dan a disebut variable (peubah), dan pada bentuk -7xy + 3, -7 adalah koefisien dari variable xy dan 3 adalah konstanta.
 




Selanjutnya perhatikan bentuk aljabar berikut ini !
12 x2 – 9x – 8y + 7xy – 4x2 + 5y


Bentuk aljabar daitas terdiri atas 6 suku, yaitu 12x2, -9x, -8y, 7xy, -4x2, dan 5y, dengan suku-suku yang sejenis, yaitu:
                                         i.            12x2 dan -4x2
                                       ii.            -8y dan 5y
Suku-suku diktakan sejenis bila memiliki variable yang sama dan variable yang sama itu harus memiliki pangkat yang sama juga. Dengan kata lain, suku-suku yang sejenis hanya berbeda pada koefisienya.
12x2 dan -9x bukan suku sejenis, karena x2 tidak sama (tidak sejenis) dengan x. -9x dan 7xy juga bukan suku sejenis, karena x tidak sama (tidak sejenis) dengan xy.
Text Box: Suku-suku yang sejenis pada bentuk aljabar hanya berbeda pada koefisienya.Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa:


Contoh:
1.      Tentukan banyak suku pada bentuk aljabar berikut ini!
a.  7a + 8                                  b. 2x4 – 5x3 – 4x2 + 7x
Jawab:
a.  Banyak suku pada 7a + 8 adalah 2 yaitu 7a dan 8.
b. Banyak suku pada 2x4 – 5x3 – 4x2 + 7x adalah 4, yaitu 2x4, – 5x3, – 4x2 dan 7x
2.      Tentukan suku-suku yang sejenis pada bentuk aljabar berikut ini!
a.  9k + 8m – 4km – 15k + 7km
b.  7p2 – 8p2q – 11p2 + p2q + 12pq2
Jawab:
a.       Suku-suku yang sejenis pada 9k + 8m – 4km – 15k + 7km adalah
i)          9k dan -15 k
ii)        -4km dan 7 km
b.      suku yang sejenis pada 7p2 – 8p2q – 11p2 + p2q + 12pq2 adalah:
i)          7p2 dan -11p2
ii)        -8p2q dan p2q
b.        .Operasi Hitung Pada Bentuk Aljabar
a)              penjumlaham dan pengurangan bentuk aljabar.
Untuk menentukan hasil penjumlahan maupun hasil pengurangan pada bentuk aljabar, perlu diperhatikan hal-hal berikit ini.
a.       Suku-suku yang sejenis.
b.      Sifat distributive perkalian terhadap penjumlahan dan perkalian terhadap pengurangan, yaitu:
i) ab + ac = a(b + c) atau a(b+c) = ab+ac
ii) ab – ac = a(b – c) atau a(b – c) = ab – ac
c.       Hasil perkalian dua bilangan bulat, yaitu:
i)              Hasil perkalian dua bilangan bulat positif  adalah bilangan bulat positif,
ii)            Hasil perkalian bilangan bulat negatif adalah bilangan bulat positif,
iii)          Hasil perkalian bilangan bulay positif dengan bilangan bulat negative adalah  bilangan bulat negatuf.
Dengan menggunakan ketentuan-ketentuan diatas, maka hasil penjumlahan maupun pengurangan pada bentuk aljabar dapat dunyatakan dalam bentuk yang lebih sederhana dengan memperhatikan suku-suku yang sejenis.
b)             Perkalian bentuk aljabar
Perkalian suku dua dan suku banyak yang perlu diingat kembali meliputi materi-materi berikut ini.
Text Box: 1) x( x+k) = x(x) + x(k)
  = x2 + kx
2) x(x +y + k) = x(x) + x(y) + x(k)
        = x2+xy+kx
3) (x + p)(x + q) = x(x) + x(q) + p(x) + p(q)
            = x2 + (p + q)x + pq
4) (x + p)(x + q + r)=x(x) + x(q) + x(r) + p(x) + p(q) + p(r)
   = x2 + xq +xr + px + pq + pr
 






c)              Pembagian bentuk aljabar
Bentuk aljabar 3a dan a memiliki faktor yang sama, yaitu a, sehingga hasil pembagian 3a dengan a dapat disederhanakan, yaitu 3a ; a  = 3. Demikian halnya dengan 6xy : 2y = 3x.
Text Box: Untuk bilangan bulat a dengan pangkat m dan n selalu berlaku:

am ´ an = am+n dan am : an = am-n 
Selain itu perlu diingat kembali tentang pembagian dan perlkalian bilangan berpangkat yang telah dibahas sebelumnya, yaitu:


Cintoh:
Tentukan hasil bagi dari bentuk aljabar 12ab : 3a
Jawab:
 = 4a1-1b1   = 4a0b1    =4b   
d)             Pemangkatan bentuk aljabar
a)      Arti pemangkatan brntuk aljabar
Dalam pemangkatan bentuk aljabar perlu dibedakan pengertian-pengertian berikut ini:
i)     3a2 dengan (3a)2
Pada bentuk 3a2, yang dikuadratkan hanyalah a , sedangkn pada bentuk (3a)2, yang dikuadratkan adalah 3a . jadi, 3a2 tidak sama dengan (3a)2
ii)   – (3a)2 dengan (-3a)2
Pada bentuk – (3a)2, yang dikuadratkan hanya 3a, sedangkan bada bentuk (-3a)2, yang dikuadratkan adalah   -3a. jadi, – (3a)2 tidak sama dengan (-3a)2.
– (3a)2 = -(3a ´ 3a) dan (-3a)2 = (-3a) ´ (-3a)
Contoh:
Tentukan hasil pemangkatan bentuk aljabar dari (4a)2
Jawab!
(4a)2 = (4a) ´ (4a)
                 = 16a2



b)      Pemangkatan suku dua.
Dalam menentukan hasil pemangkatan suku dua, koefisien dari suku-suku hasil pemangkatan dapat ditentukan berdasarkan segitiga pascal.
Hubungan antara segitiga pascal dengan pemangkatan suku dua ditunjukan seperti berikut ini.
 




Bilangan-bilangan pada segitiga pascal diatas merupakan koefisien pada hasil pemangkatan bentuk aljabar suku dua.
Rounded Rectangle: Koefisien dari suku-suku pada hasil pemangkatan suku dua diperoleh dari bilangan pada segitiga pascal.
1. (a + b)2 = 1a2 + 2ab + 1b2
2. (a +b)3 = 1a3 + 3a2b + 3ab2+1b3
3. (a + b)4 = 1a4 + 4a3b + 6a2b2 + 4ab3 + 1b4
4. (a + b)5 = 1a5 + 5a4b + 10a3b2 + 10a2b3 + 5ab4 + 1b5
Perhatikan pangkat a turunan, dan pangkat dari b naik!
 






Contoh:
Tentukan hasil pemangkatan dari (2x + y)3
Jawab!
(2x + y)3 = 1(2x)3 + 3(2x)2y + 3(2x)y2+1y3
                = 8x3 + 12x2y + 6xy2 + y3
8.      Kerangka Berfikir
Upaya meningkatkan prestasi belajar melalui peningkatan hasil belajar siswa pada pelajaran matematika di sekolah adalah dengan memilih model pembelajaran yang tepat dalam proses pembelajarannnya. Salah satu modelnya adalah model  pembelajaran kooperatif. Dalam pembelajaran kooperatif mencakup kelompok-kelompok kecil siswa yang bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan suatu masalah, menyelesaikan suatu tugas, atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama lainnya.
Dalam hal ini ada 2 macam m metode pembelajaran kooperatif yaitu n metode Group Investigation dan Listening. Kedua metode ini adalah metode pembelajaran kooperatif yang dapat digunakan sebagai alternatif bagi guru untuk mengajar. Kedua metode pembelajaran ini mempunyai keistimewaan yaitu siswa selain bisa mengembangkan kemampuan individu juga bisa mengembangkan kemampuan kelompok.
Group Investigationn merupakan salah satu bentuk model pembelajaran kooperatif yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas siswa untuk mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari melalui bahan-bahan yang tersedia, misalnya dari buku pelajaran atau siswa dapat mencari melalui internet Siswa dilibatkan sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Tipe ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok. Model Group Investigation dapat melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berfikir mandiri. Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran. (Sudrajat:2009: 1)
Model Pembelajaran kooperatif dengan metode Pembelajaran tim pendengar (listening team) merupakan salah satu pembelajaran yang dimana siswa terlibat secara aktif dan terjadi hubungan yang dinamis serta saling mendukung antara siswa satu dengan siswa yang lain. Pembelajaran ini dimaksudkan untuk mengaktifkan seluruh siswa dengan membagi siswa secara berkelompok dan memberikan tugas yang berbeda kepada masing-masing kelompok tersebut.(Laelatus:2011: 1-2)
LKS merupakan stimulus atau bimbingan guru dalam pembelajaran yang akan disajikan secara tertulis sehingga dalam penulisannya perlu memperhatikan kriteria media grafis sebagai media visual untuk menarik perhatian peserta didik. Paling tidak LKS sebagai media kartu. Sedangkan isi pesan LKS  harus memperhatikan unsur – unsur penulisan media grafis, hirarki materi (matematika) dan pemilihan pertanyaan – pertanyaan sebagai stimulus yang efektif dan efisien. (Hidayah, 2007:8)
Dalam pembelajaran kelompok dengan pemanfaatan LKS, diharap siswa dapat meningkatkan pikiran kritisnya, kreatif dan menumbuhkan sikap sosial yang tinggi. Sebelum dibentuk kelompok siswa diajarkan bagaimana bekerjasama dalam suatu kelompok. Siswa diajari menjadi pendengar yang baik, dapat memberikan penjelasan pada teman sekelompok, berdiskusi, mendorong teman lain untuk bekerja sama, menghargai pendapat teman lain dan sebagainya.

B.       Hipotesis
Hipotesis merupakan suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul.
( Arikunto, 2006 : 71 ).
Hipotesis dalam penelitian ini adalah efektifitas Model Pembelajaran kooperatif dengan metode Group Investigation dan Listening Team dengan pemanfaatan LKS pada pokok bahasan Faktorisasi Suku Aljabar Kelas VIII Semester 1 SMP N 1 Gringsingnn, Batang tahun pelajaran 2011 / 2012.
Secara Operasional di Rumuskan:
Ha1 : Terdapat perbedaan hasil belajar matematika yang diberi model pembelajaran kooperatif tipe group investigation, tipe listening  team dan pembelajaran konvensional dengan pemanfaatan LKS pokok bahasan Faktorisasi Suku Aljabar pada siswa kelas VIII SMP N 01 Gringsing, Batang tahun ajaran 2011/2012
Ha2 : Terdapat perbedaan hasil belajar matematika yang diberi Model Pembelajaran kooperatif dengan metode Group Investigation dan Listening team dengan pemanfaatan LKS pada pokok bahasan faktorisasi suku aljabar siswa Kelas VIII Semester 1 SMP N 1 Gringsing, Batang tahun pelajaran 2011/2012
 Ha3 :Hasil belajar matematika yang diberi Model Pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation lebih baik dari pembelajaran konvensional dengan pemanfaatan LKS pada pokok bahasan faktorisasi suku aljabar siswa Kelas VIII Semester 1 SMP N 1 Gringsing, Batang Kelas VIII Semester 1 SMP N 1 Gringsing, Batang tahun pelajaran 2011/2012.
Ha4  :   Hasil belajar matematika yang diberi Model Pembelajaran kooperatif tipe Listening team lebih baik dari pembelajaran konvensional dengan pemanfaatan LKS pada pokok bahasan faktorisasi suku aljabar siswa Kelas VIII Semester 1 SMP N 1 Gringsing, Batang tahun pelajaran 2011/2012.
Untuk keperluan uji, hipotesis diatas diubah menjadi hipotesis nol (Ho), yaitu :
Ho1  :   Tidak terdapat perbedaan hasil belajar matematika yang diberi model pembelajaran kooperatif tipe group investigation, tipe listening team dan pembelajaran konvensional dengan pemanfaatan LKS pokok bahasan Faktorisasi Suku Aljabar pada siswa kelas VIII SMP N 01 Gringsing, Batang tahun ajaran 2011/2012
Ho2  :   Tidak terdapat perbedaan hasil belajar matematika yang diberi Model Pembelajaran kooperatif dengan metode Group Investigation dan Listening team dengan pemanfaatan LKS pada pokok bahasan faktorisasi suku aljabar siswa Kelas VIII Semester 1 SMP N 1 Gringsing, Batang tahun pelajaran 2011/2012.
Ho3  :   Hasil belajar matematika yang diberi Model Pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation tidak lebih baik dari pembelajaran konvensional dengan pemanfaatan LKS pada pokok bahasan faktorisasi suku aljabar siswa Kelas VIII Semester 1 SMP N 1 Gringsingnn, Batang tahun pelajaran 2011/2012.
Ho4  :   Hasil belajar matematika yang diberi Model Pembelajaran kooperatif tipe Listening team tidak lebih baik dari pembelajaran konvensional dengan pemanfaatan LKS pada pokok bahasan faktorisasi suku aljabar siswa Kelas VIII Semester 1 SMP N 1 Gringsingnn, Batang tahun pelajaran 2011/2012.











BAB III
METODE PENELITIAN
A.      Lokasi Penelitian
Lokasi dalam penelitian ini adalah SMP Negeri 1 Gringsing, kabupaten Batang.

B.       Populasi Penelitian dan Sampel Penilitian
1.      Populasi penelitian
Populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin, hasil menghitung ataupun pengukuran, kuantitatif maupun kualitatif mengenai karakteristik tertentu dari semua anggota kumpulan yang lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat - sifatnya ( Sudjana, 2005 : 6 ). Sesuai dengan pengertian di atas, populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP N 01Gringsing, Batang tahun pelajaran 2011/ 2012 yang terdiri dari lima kelas, yaitu kelas VIII A, VIII B, VIII C, VIII D, VIII E VIII F,VIII G dan VIII H.
2.      Sampel Penelitian
42
 
Siswa yang diambil untuk penelitian duduk pada kelas yang sama dan pembagian kelas tidak ada kelas unggulan sehingga siswa sudah tersebar secara acak pada kelas yang telah ditentukan. Oleh karena itu, teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah  cluster random sampling. Pada penelitian ini, penulis memilih secara acak tiga kelas yaitu dua kelas sebagai eksperimen dan satu kelas sebagai kelas kontrol. Kelas VIIIA sebagai kelas eksperimen 1 yang diberikan suatu perlakuan yang dalam hal ini pembelajaran dengan menggunakan Model Pembelajaran Langsung. Kelas VIIIB sebagai kelas eksperimen 2 yang diberikan suatu perlakuan yang dalam hal ini pembelajaran dengan menggunakan Model Pembelajaran kooperatif dengan metode Group Investigation. Pembelajaran untuk kelas VIIIC menggunakan model konvensional.

C.      Desain Penelitian
Langkah-langkah yang dilakukan pada saat penelitian adalah:
1.        Peneliti memandang kelas yang akan dijadikan sampel.
Adapun rancangan penelitian ini dapat digunakan sebagai berikut:
Kelompok
Treatment
Post-test
Eksperimen I
X1
Y1
Eksperimen II
X2
Y2
Kontrol
X3
Y3
Keterangan:
Variabel penelitian adalah objek penelitian yang bervariasi (Arikunto, 2006 : 116 ). Variabel dalam penelitian ini ada dua, yaitu variabel streadment (perlakuan) dan variabel respon (variabel tak bebas). Adapun kedua variabel tersebut adalah:
a.          Variabel perlakuan ( X ) adalah model pembelajaran yaitu:
X1 : Pembelajaran dengan menggunakan model Pembelajaran Kooperatif dengan metode Investigasi Kelompok
 X2:Pembelajaran dengan menggunakan Model Pembelajaran kooperatif dengan metode Tim Pendengar
X3  : Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran konvensional
b.         Variabel respon dalam penelitian ini adalah hasil belajar matematika siswa Kelas VIII Semester 1 SMP N 1 Gringsingnn, Batang yaitu :
Y1   : Hasil belajar siswa yang mendapat pembelajaran matematika  dengan model Pembelajaran Kooperatif dengan metode Investigasi Kelompok
Y2   : Hasil belajar siswa yang mendapat pembelajaran matematika dengan Model Pembelajaran kooperatif dengan metode Tim Pendengar
Y3  : Hasil belajar siswa yang mendapat pembelajaran matematika dengan model pembelajaran konvensional.
2.        Peneliti membuat instrumen penelitian yang akan digunakan untuk penelitian.
3.        Peneliti/guru melaksanakan pembelajaran pada sampel penelitian. Pada pelaksanaan ini diterapkan Model Pembelajaran kooperatif dengan metode Group Investigation dan metode Listening Team
4.        Peneliti/guru melaksanakan ujicoba, menganalisis dan menerapkan instrumen penelitian.
5.        Peneliti mengumpulkan data-data yang diperlukan pada sampel dengan dokumentasi untuk memperoleh daftar nama dan jumlah siswa dan tes untuk mengukur hasil belajar siswa.
6.        Peneliti menganalisis atau mengolah data yang telah dikumpulkan dengan metode yang telah ditentukan.
7.        Peneliti melaporkan hasil-hasil penelitian

D.      Metode Pengumpulan Data
1.    Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah metode untuk menyelidiki benda – benda tertulis seperti buku – buku, majalah, dokumen, peraturan – peraturan, notulen rapat, catatan harian, dan sebagainya ( Arikunto, 2006 : 158 ). Metode ini dilakukan untuk memperoleh data nama siswa yang termasuk dalam populasi dan sampel penelitian serta untuk memperoleh data nilai ulangan umum matematika semester ganjil siswa Kelas VIII Semester 1 SMP N 01 Gringsingnn, Batang. Nilai ini digunakan untuk mengetahui normalitas, kesamaan dua varians dan kesamaan dua rata-rata sampel.
2.    Metode Tes
Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Arikunto, 2006 : 150 ).
Metode tes ini dianggap merupakan alternatif terbaik untuk mendapatkan data cerminan dari suatu eksperimen. Dengan tes inilah diharapkan diperoleh data kuantitatif dari hipotesis yang diajukan. Adapun bentuk soal adalah tes uraian yang terdiri dari 8 soal.

E.       Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah berupa tes.
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan instrumen yang dibuat berupa tes yang disusun dalam bentuk tes uraian yang terdiri dari delapan butir soal, dimana dalam pemilihan soal harus memperhatikan:
1.         Bahan atau materi yang ditanyakan lebih spesifik.
2.         Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan soal relatif lama.
Tes digunakan sebagai alat pengumpul data, sehingga setiap item dari tes tersebut harus memenuhi persyaratan baik dalam hal daya pembeda, tingkat kesukaran, validitas dan reliabilitas item soal.
1.        Validitas Butir Soal
Untuk menentukan validitas tes digunakan rumus-rumus product moment sebagai berikut:
Keterangan:
 = Kooefisien korelasi antara X dan Y
X   = Skor butir soal nomor tertentu
Y   = Skor total
N   = Banyaknya data                   ( Arikunto, 2006 : 72 )
Hasil yang diperoleh kemudian diinterpretasikan menurut aturan sebagai berikut:
0,80 < rxy £ 1,00   = Sangat Tinggi
0,60 < rxy £ 0,80   = Tinggi
0,40 < rxy £ 0,60   = Cukup
0,20 < rxy £ 0,40   = Rendah
0,00 £ rxy £ 0,20  = Sangat Rendah
 ( Arikunto, 2006 : 75 )
2.        Reliabilitas
Pengertian reabilitas tes berhubungan dengan masalah ketetapan hasil tes atau seandainya hasilnya berubah – ubah perubahan yang terjadi dapat dikatakan tidak berarti. ( Arikunto, 2006 : 86 )
Adapun rumus yang digunakan untuk mengukur reliabilitas tes adalah:

Keterangan:         
r11             = Reabilitas yang dicari
p               = Proporsi subjek yang menjawab item dengan benar
q               = Proporsi subjek yang menjawab item dengan salah
n              = Banyaknya  butir soal
= Jumlah hasil perkalian antara p dan q
S               = Standar deviasi dari tes (standar deviasi adalah akar varians) ( Arikunto, 2006 : 100 )
Selanjutnya harga r11 yang diperoleh diinterprestasikan sebagai berikut:
0,80    <  r11  £ 1,00  = Sangat Tinggi
0,60    <  r11  £ 0,80  = Tinggi
0,40    <  r11  £ 0,60  = Cukup
0,20    <  r11  £ 0,40  = Rendah
negatif £  r11  £ 0,20 = Sangat Rendah
3.         Taraf Kesukaran
Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sukar. Soal yang terlalu mudah tidak merangsang siswa untuk mempertinggi usaha memecahkannya. sebaliknya soal yang  terlalu sukar akan menyebabkan  siswa menjadi putus asa dan tidak mempunyai semangat untuk mencoba lagi karena diluar jangkauannya.
Rumus yang digunakan adalah:
TK =
Klasifikasi indeks kesukaran adalah sebagai berikut:
Jika    0        P  <      0,30 , maka kategori soal sukar
Jika    0,30   P  <   0,70, maka kategori soal sedang
Jika      0,70  P    100, maka kategori soal mudah
( Arikunto, 2006 : 210 )
4.        Daya Pembeda
Menurut Suharsimi Arikunto ( 2006 : 211 ) daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah.Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks diskriminasi,disingkat D. Indeks diskriminasi ( daya pembeda ) berkisar antara 0,00 sampai 1,00. Didalam indeks kesukaran tidak mengenal tanda negative( - ), tetapi pada indeks diskriminasi ada tanda negativf.Untuk menentukan daya pembeda digunakan rumus sebagai berikut :
 
Keterangan :
MH        =  rata-rata dari kelas atas
ML        =  rata-rata dari kelas bawah
   =  jumlah kuadrat simpangan dari HG
   =  jumlah kuadrat simpangan dari LG
t             =  daya pembeda
ni            =  27% x N
Hasil perhitungan dikonsultasikan dengan table dengan  taraf signifikan 5%. Jika tHit > ttabel dengan dk = ( n1 - 1 )( n2 - 1 ) maka soal mempunyai daya pembeda yang signifikan
( Arifin, 1991 : 141 ).
F.       Metode Analisis Data
1.      Analisis Awal
a.       Uji Normalitas Sampel
Uji kenormalan yang digunakan adalah menggunakan rumus uji Liliefors sebagai berikut:
1)      Hipotesis
Ha       : Sampel dari populasi berdistribusi normal.
Ho       : Sampel tidak dari populasi berdistribusi normal.
2)      Prosedur
a)     x1, x2, ...,xn dijadikan bilangan baku z1, z2, ..., zn dengan menggunakan rumus:   
Keterangan:
S     = Simpangan baku sampel
b)     Data dari sampel tersebut diurutkan dari skor terendah ke skor tertinggi.
c)     Dengan data distribusi normal baku dihitung peluang
F(Zi) = P(Z £ Zi)
d)    Menghitung proporsi z1, z2, ..., zn £ zi, jika proporsi ini dinyatakan oleh S(zi), maka:
e)     Menghitung selisih F(zi)–S(zi) dan menentukan harga mutlaknya.
f)          Ambil harga terbesar di antara harga-harga mutlaknya selisih tersebut, harga terbesar ini dinamakan Lo.
Sampel ke
dk
Si2
Log Si2
dk – log Si2
1

2
.
.
 K
n1 – 1

n2 – 1


nk - 1


S12

S22


Sk2
Log S12

Log S22


Log Sk2
(n1 – 1) Log S12

(n2 – 1) Log S22


(nk – 1) Log Sk2
Jml
-
-

g)     Bandingkan Lo dengan Ltabel, pada taraf signifikan 0,05.
Kesimpulan
1)      Jika Lo < Ltabel, maka Ho diterima.
2)      Jika Lo > Ltabel, maka Ho ditolak.
Catatan: Ltabel diperoleh dari tabel liliefors.
( Sudjana, 2005 : 466 )

b.    Uji Homogenitas Sampel
Untuk mengetahui seragam tidaknya variasi sampel-sampel yang diambil dari populasi yang sama, maka perlu melakukan pengujian terhadap kesamaan (homogenitas) beberapa bagian sampel. Untuk menguji homogenitas sampel digunakan Uji Bartlett, yang bentuknya sebagai berikut :
Di daftar tersebut kita hitung harga-harga yang diperlukan yaitu :
1)  
2)   Harga satuan B dengan rumus:
B =
Ternyata untuk uji Bartlett digunakan statistika chi kuadrat:
Dengan ln 10 = 2,3026, disebut logaritma asli dari pada bilangan 10. Dengan kriteria jikahitung < tabel, dengan taraf signifikansi 5%, maka dapat dikatakan homogen.
( Sudjana, 2005 : 261 – 263 )
2.      Analisis Akhir
a.       Uji Anova Satu Jalur ( Oneway Anova )
Anova ( Analysis Of Variance ) merupakan bagian dari metode analisis statistika yang tergolong analisis komparatif ( perbandingan ) lebih dari dua rata-rata. Tujuan dari uji anova satu jalur ialah untuk membandingkan lebih dari dua rata-rata. Sedangkan gunanya untuk menguji kemampuan generalisasi. Maksudnya dari signifikansi hasil penelitian (anova satu jalur). Jika terbukti berbeda berarti kedua sampel tersebut dapat digeneralisasikan artinya data sampel dapat mewakili populasi.
Anova pengembangan atau penjabaran lebih lanjut dari uji t(thitung). Uji t atau uji z hanya dapat melihat perbandingan dua kelompok data saja. Sedangkan anova satu jalur lebih dari dua kelompok data, contohnya: 1) perbedaan prestasi belajar statistika antara mahasiswa tugas belajar (X1), izin belajar (X2) dan umum (X3). 2) Motivasi kerja pegawai diklat dari eselon I (X1), eselon II (X2) , Eselon III (X3), eselon IV (X4).
Anova lebih dikenal dengan uji  F ( Fisher Test ), sedangkan arti variasi itu asal usulnya dari pengertian konsep “Mean Square” atau kuadrat rerata ( KR ), rumus sistematisnya:
KR =
dimana :
JK = Jumlah kuadrat ( some of square )
db = derajat bebas ( degree of freedom )
menghitung nilai anova atau F ( Fhitung ) dengan rumus:
Fhitung = = = =
Dalam analisis varians ini, hipotesis statistik yang diuji adalah
Ho :
Ha : paling sedikit satu tanda ”=” tidak berlaku
Keterangan:
: Hasil belajar matematika melalui model pembelajaran Langsung.
: Hasil belajar matematika melalui Model Pembelajaran kooperatif dengan metode Group Investigation
: Hasil belajar matematika melalui pembelajaran konvensional.
Untuk pengujian hipotesis tersebut digunakan uji F dengan bantuan tabel analisis varians seperti pada tabel berikut:
Sumber Variasi
Dk
JK
KT
F
Rata-rata
1
Ry
R = Ry / 1
A / D
Antar Kelompok
k – 1
Ay
A = Ay / (k-1)
Dalam Kelompok
Dy
Total


Keterangan:
Ry = jumlah kuadrat
Ay = jumlah kuadrat antar kelompok
Dy = jumlah kuadrat  dalam kelompok
       = Jktot – Ry – Ay
R   = kuadrat tengah rata-rata
A   = kuadrat tengah antar kelompok
D   = kuadrat tengah dalam kelompok
Kriteria pengujiannya adalah tolak Ho jika  dimana  didapat dari daftar distribusi F dengan peluang    (1 - a) untuk a = 0.05 dan dk = (k – 1, ). Seandainya ternyata Ho ditolak, maka perhitungan dilanjutkan agar dapat diketahui pasangan mana yang berbeda dengan menggunakan uji t atau uji Scheffe atau uji Tukey.
( Sudjana, 2005 : 304 -305 )
b.      Uji t (untuk hipotesis kedua)
Jika terdapat perbedaan atau Ho ditolak maka digunakan uji – t.
Jika = , maka rumus yang di gunakan adalah sebagai berikut:
, dengan s2 =
kriteria pengujian, terima Ho jika: , dimana  didapat dari daftar distribusi t dengan dk = (n1 + n2 – 2) dan peluang . Untuk harga-harga t lainnya, Ho ditolak.
c.       Uji – t (untuk hipotesis ketiga dan keempat)
Jika terdapat perbedaan atau Ho ditolak maka digunakan uji – t.
Jika  ¹ , maka rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
t=
Kriteria pengujian tolak Ho jika:
 t’ ³   dan terima Ho jika sebaliknya
Dengan W1 =  , W2 =
     t1 = t (1 – α )  ( n1 – 1)  dan t2 = t (1 – α ),(n2 – 1) 
derajat kebebasan masing-masing adalah (n1 – 1) dan (n2 -1) dengan peluang (1 –a)
( Sudjana, 2005 : 238- 243 )

G.      Ketuntasan Belajar
Untuk mengetahui keefektifan pembelajaran digunakan kriteria ketuntasan belajar sebagai berikut:
1.       Ketuntasan Belajar Individu (Perorangan)
Ketuntasan belajar siswa baik kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen dapat dirumuskan sebagai berikut:
Apabila siswa telah menguasai sekurang-kurangnya 65% terhadap materi setiap satuan bahasan yang diajukan.

2.       Ketuntasan Belajar Klasikal
Di dalam pengukuran tuntas secara klasikal, dikatakan belajar tuntas dengan rumus:
Apabila sekurang-kurangnya 85% dari siswa berhasil mencapai tingkat penguatan yang ditetapkan.

















BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.   Persiapan Penelitian
Sebelum penelitian dilaksanakan maka harus dilakukan persiapan terlebih dahulu sehingga penelitian bisa terlaksana dengan baik. Dalam tahap persiapan, hal yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1.  Menetapkan materi operasi bentuk aljabar terlebih dahulu.
2.  Mencatat data siswa berupa nilai ulangan matematika pada materi sebelumnya kelas VIII semester I yang akan digunakan untuk uji normalitas dan homogenitas sampel.
3.  Menentukan sampel dari populasi berdasarkan data 2. Populasi dalam penelitian ini adalah kelas VIII SMP Negeri 01 Gringsing, Batang tahun pelajaran 2011/2012 yang terbagi menjadi VIII A, VIII B, VIII C, VIII D, VIII E, VIII F, VIII G, dan VIII H. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini dengan menggunakan teknik cluster random sampling, yaitu mengambil 3 kelas secara acak untuk menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol dari siswa kelas VIII SMP Negeri 01 Gringsing, Batang. Dari cara tersebut terpilih kelas VIII D sebagai kelas eksperimen I, VIII E sebagai kelas eksperimen II dan VIII F sebagai kelas kontrol.
4. 
58
 
Menyusun kisi-kisi tes uji coba berdasarkan kompetensi dasar dan indikator yang dicapai.


5.  Menyusun instrumen tes uji coba berdasarkan kisi-kisi.
6.  Menguji cobakan instrumen tes pada kelas uji coba yaitu kelas VIII G, berdasarkan materi operasi bentuk aljabar yang sudah diajarkan pada kelas tersebut.
7.  Melakukan uji coba tes instrumen pada kelas penelitian setelah dilakukan analisis validitas, reliabilitas, taraf kesukaran dan daya pembeda dari uji coba tes yang dilakukan sebelumnya pada kelas uji coba.

B.    Hasil Uji Coba Instrumen
Setelah data siswa diperoleh maka langkah selanjutnya adalah melakukan uji coba instrumen penelitian. Uji coba tes dilaksanakan pada tanggal 21 Agustus 2011 terhadap siswa kelompok uji coba yaitu kelas VIII G  Jumlah soal yang diberikan sebanyak 10 soal essay dengan alokasi waktu 60 menit.
1. Langkah-langkah Uji Coba Instrumen
Adapun langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a.  Menyusun perangkat tes dalam bentuk soal essay dengan jumlah 10 butir soal untuk diujicobakan pada kelas uji coba yaitu kelas VIII G.
b. Menganalisis hasil uji coba untuk mengetahui validitas, reliabilitas, daya pembeda, dan tingkat kesukaran soal tes.
c.  Menentukan butir soal yang digunakan sebagai alat ukur penelitian.


2.  Analisis  Instrumen  Penelitian
a.  Validitas
Analisis validitas dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah soal yang disusun dalam kategori soal yang valid atau termasuk dalam kategori soal yang tidak valid. Kriteria pengujiannya adalah jika rxy> rtabel maka soal dikatakan valid.
Untuk mengetahui validitas tes digunakan rumus korelasi product moment sebagai berikut :
Contoh perhitungan validitas pada butir soal nomor 1 yaitu :
∑X   = 284          ∑X2  = 2462         N = 35
∑Y  = 2546         ∑Y2= 187976       ∑XY = 21030
Kemudian harga-harga tersebut dimasukkan ke dalam rumus :
Setelah dikonsultasikan dengan harga kritik r product moment, untuk  dengan n = 35 diperoleh rtabel = 0,334 maka diperoleh rxy> rtabel(0,561> 0,334) sehingga disimpulkan soal nomor dua kategori valid.
Berdasarkan analisis validitas diketahui, bahwa dari 10 (sepuluh) soal yang ada, butir soal dalam kategori valid ada 8 (delapan), antara lain 1, 3, 4, 5, 7, 8, 9 dan 10. Sedangkan butir soal yang tidak valid ada 2(dua), yaitu butir soal nomer 2 dan 6. Sehingga soal yang dapat digunakan dalam penelitian ini hanya ada 8 (delapan) soal, yaitu butir soal dalam kategori valid. Hasil dan perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 11.
b. Reliabilitas
Analisis reliabilitas dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kepercayaan soal.
Rumus yang digunakan untuk analisis reliabilitas adalah sebagai berikut :


Perhitungan reliabilitas:
1) Tahap pertama, menghitung varian setiap butir soal dengan rumus
Varians butir soal nomor satu:
N = 35          
Varian item 1
SX2         =2462                                 (SX)2=80656

Untuk perhitungan varians butir yang lain, analog dengan perhitungan  varians butir soal nomor satu. Diperoleh varians setiap butir soal sebagai berikut:
,    , ,, ,      
,
Varian total
SY2=187976            (SY)2=6482116
0,400 ≤ r11< 0,600, sehingga kriteria reliabilitasnya sedang atau cukup.
Dari hasil perhitungan = 0,416 terletak pada interval (0,400 sampai 0,600) maka reliabilitas tes instrument yang diujikan  termasuk kategori cukup. Perhitungan selanjutnya dapat dilihat pada lampiran 12.
c.  Taraf Kesukaran
Analisis taraf kesukaran dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kesukaran soal.
Rumus yang digunakan untuk analisis taraf kesukaran adalah sebagai berikut :
Contoh Perhitungan Item soal no. 5
F = 15     N = 35
Dari perhitungan didapat harga P = 42,86%, karena jumlah siswa yang gagal menjawab soal dengan benar lebih dari 27 % dan kurang dari 72% dari jumlah keseluruhan siswa maka butir soal nomor 5 mempunyai tingkat kesukaran sedang
Dari hasil analisis tingkat kesukaran soal tersebut didapatkan soal dalam kategori mudah ada pada butir soal nomor 1dan soal kategori sedang pada butir nomor 2, 3, 4, 5,6, 7, 8, 9 dan 10. Hasil dan perhitungan taraf kesukaran selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 10.
d. Daya Pembeda
Analisis daya pembeda dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan soal dalam membedakan siswa yang termasuk kelas berkemampuan tinggi dan siswa yang termasuk kelas berkemampuan rendah. 

Rumus yang digunakan untuk analisis daya pembeda butir soal adalah :
Rumus :
Contoh perhitungan daya pembeda pada butir soal nomor 4 :
     = (27% x 35) = 9,5
MH    = 8,8           ML    = 6,2
  
Harga-harga tersebut kemudian dimasukkan ke dalam rumus :

Kemudian t hitung yang didapat yaitu = 3,259 dikonsultasikan dengan t tabel dengan taraf signifikan 5% didapat 1,75 maka thitung>ttabel (3,259 > 1,75) sehingga daya pembeda butir soal nomor 4 dalam kategori signifikan..
Berdasarkan analisis tersebut diperoleh soal nomor 1,4,5,6,7,8 dan 9 mempunyai daya pembeda signifikan, dan soal nomor 2,3 dan 10 mempunyai daya pembeda tidak signifikan. Hasil dan perhitungan analisis daya pembeda  selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 10.
Mempertimbangkan hasil analisis validitas, reliabilitas, taraf kesukaran dan daya pembeda, maka dari 10 (sepuluh) soal yang ada, soal yang digunakan sebagai instrumen penelitian ada 8 (delapan) yaitu soal  nomor 1, 3, 4, 5, 7, 8, 9 dan 10



C.   Pelaksanaan Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada tanggal 21 sampai 27 Agustus 2011. Adapun tahap-tahap pelaksanaan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Melaksanakan pembelajaran dengan model Cooperative tipe Group Investigation berbantuan LKS pada kelompok eksperimen I dan model cooperative tipe Listening Team berbantuan LKS pada kelompok eksperimen II, serta pembelajaran Konvensional pada kelompok kontrol.
2.  Memberikan tes evaluasi pada kedua kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dengan alokasi waktu yang telah ditentukan
3.  Melakukan uji hipotesis dengan menggunakan data hasil evaluasi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
                                                            
D.   Analisis Hasil Penelitian
Bedasarkan penelitian yang dilaksanakan diperoleh data hasil penelitian, data ini kemudian dianalisis untuk mendapatkan kesimpulan yang berlaku untuk seluruh populasi. Adapun analisis penelitian ini dibagi menjadi dua tahap yaitu sebagai berikut:
1.    Analisis Awal
Analisis awal ini bertujuan untuk mengetahui apakah kelompok kontrol, kelompok eksperimen I, dan kelompok eksperimen II dari keadaan yang sepadan.
Data yang digunakan adalah data nilai ulangan tengah semester matematika kelas VIII D, VIII E, dan VIII F SMP Negeri 01 Gringsing, Batang.
a.  Uji Normalitas
Hasil perhitungan uji kenormalan kelompok eksperimen I (kelas VIII D) didapatkan Lohitung = 0,0939. Kemudian kita bandingkan dengan nilai kritis yang diambil dari daftar nilai kritis untuk uji liliefors dengan taraf signifikan sebesar 5% dan n = 36 diperoleh Lotabel= 0,1477, karena harga Lohitung< Lotabel yaitu (0,0939 < 0,1477) maka data nilai ulangan tengah semester matematika kelas VIII D SMP Negeri 01 Gringsing, Batang berdistribusi normal. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 15 dan 16.
Hasil perhitungan uji kenormalan kelompok eksperimen II (kelasVIII E) didapatkan Lohitung = 0,0601. Kemudian kita bandingkan dengan nilai kritis yang diambil dari daftar nilai kritis untuk uji liliefors dengan taraf signifikan sebesar 5% dan n =  36 diperoleh  Lotabel= 0,1477,
karena harga Lohitung< Lotabel yaitu (0,0601 < 0,1477) maka data nilai ulangan tengah semester matematika  kelas VIII E SMP Negeri 01 Gringsing, Batang berdistribusi normal. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 17 dan 18.
Hasil perhitungan uji kenormalan kelompok kontrol (kelas VIII F) didapatkan Lohitung = 0,0844. Kemudian kita bandingkan dengan nilai kritis yang diambil dari daftar nilai kritis untuk uji liliefors dengan taraf signifikan sebesar 5% dan n = 37 diperoleh Lotabel = 0,1498, karena harga Lohitung< Lotabel yaitu (0,0844< 0,1498) maka data nilai ulangan tengah semester matematika kelas VIII F SMP Negeri 01 Gringsing, Batang berdistribusi normal. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 19 dan 20.
b. Uji Homogenitas
Untuk mengetahui apakah sampel diperoleh dari populasi yang homogen maka perlu diuji homogenitas sampel dengan uji Bartlett.
Berdasarkan perhitungan diperoleh :
B = 408,178       = 241,2906
Maka :
Hasil tersebut kemudian dikonsultasikan dengan χ2 tabel. Untuk= 5% dengan dk = (ni – 1) = (3 – 1) = 2 dari harga kritis Chi Kuadrat diperoleh .= 0,5966Karena  χ2hitung< χ2tabel yaitu (0,5966<0,5991) maka sampel berasal dari populasi yang homogen. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 21.
2.    Analisis Akhir
a.  Uji Normalitas
Hasil perhitungan uji kenormalan kelompok eksperimen 1 (kelas VIII D) didapatkan Lohitung = 0,1429. Kemudian kita bandingkan dengan nilai kritis yang diambil dari daftar nilai kritis untuk uji liliefors dengan taraf signifikan sebesar 5% dan n = 36 diperoleh Lotabel = 0,1477 karena harga Lohitung< Lotabel yaitu (0,1429 < 0,1477) maka data nilai evaluasi pada kelas VIII D SMP Negeri 01 Gringsing, Batang berdistribusi normal. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 23 dan 24.
Hasil perhitungan uji kenormalan kelompok eksperimen 2 (kelas VIII E) didapatkan Lohitung = 0,1051.Kemudian kita bandingkan dengan nilai kritis yang diambil dari daftar nilai kritis untuk uji liliefors dengan taraf signifikan sebesar 5% dan n = 37 diperoleh Lotabel = 0,1457 karena harga Lohitung< Lotabel yaitu (0,1051 < 0,1457) maka data nilai evaluasi pada kelas VIII E SMP Negeri 01 Gringsing, Batang berdistribusi normal.Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 25 dan 26.
Hasil perhitungan uji kenormalan kelompok kontrol (kelas VIII F) didapatkan Lohitung = 0,0953.  Kemudian kita bandingkan dengan nilai kritis yang diambil dari daftar nilai kritis untuk uji liliefors dengan taraf signifikan sebesar 5% dan n = 36 diperoleh Lotabel = 0,1477 karena harga Lohitung< Lotabel yaitu (0,0953 < 0,1477) maka data nilai evaluasi pada kelas VIII F SMP Negeri 01 Gringsing, Batang berdistribusi normal .Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 27 dan 28.
b. Uji Homogenitas
Untuk mengetahui apakah sampel diperoleh dari populasi yang homogen maka perlu diuji homogenitas sampel dengan uji Bartlett.
Berdasarkan perhitungan diperoleh :
B = 218,9114  = 217,4897
 Maka:
         Sehingga nilai c2 hitung = 3,2807
Hasil tersebut kemudian dikonsultasikan dengan χ2 tabel. Untuk= 5% dengan dk = (ni – 1) = (3 – 1) = 2 dari harga kritis Chi Kuadrat diperoleh .= 5,991.Karena  χ2hitung< χ2tabel yaitu (3,2807< 5,99) maka sampel berasal dari populasi yang homogen.  Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 29.
c.  Uji ANAVA
Untuk mengetahui kesamaan rata-rata antara kelompok kontrol, kelompok eksperimen I, dan kelompok eksperimen II dilakukan uji kesamaan rata-rata dengan ANAVA.
Berdasarkan perhitungan diperoleh :
Jumlah kuadrat rata-rata (JKR) = 1133832,01
Jumlah kuadrat antar kelompok (JKA) = 1009,5034
Jumlah kuadrat total (JK tot) = 527595
Jumlah kuadrat dalam (JKD) = 12317,8911
dk (rata-rata) =  1
dk (antar kelompok) =  (k-1)= (3-1) = 2
dk (dalam kelompok) =  = 106
RT (rata-rata) = JKR:1 = 514267,6055:1 = 514267,6055
RT (antar kelompok) = JKA:(k-1) = 1009,5034:2 = 504,7517
RT (dalam kelompok) = JKD:(}=12317,8911:106= 116,2065
F (kesamaan rata-rata) =
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa  = 4,3436. Dari daftar distribusi F dengan dk pembilang = 2, dk penyebut = 106 dan peluang 0,95 (a = 0.05) didapat  = 3,44. Ternyata > sehingga hipotesis Ho ditolak, dengan kata lain jika diberikan perlakuan yang berbeda memberikan hasil yang secara nyata berbeda pula. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 30.
d. Uji t (untuk hipotesis kedua)
Perhitungan untuk kelompok eksperimen I dan eksperimen II adalah sebagai berikut :
  Tidak terdapat perbedaan hasil belajar matematika yang diberi Model Pembelajaran kooperatif dengan metode Group Investigation dan Listening team dengan pemanfaatan LKS pada pokok bahasan Operasi Bentuk Aljabar siswa Kelas VIII Semester 1 SMP N 1 Gringsing, Batang tahun pelajaran 2011/2012.
Terdapat perbedaan hasil belajar matematika yang diberi Model Pembelajaran kooperatif dengan metode Group Investigation dan Listening team dengan pemanfaatan LKS pada pokok bahasan Operasi Bentuk Aljabar siswa Kelas VIII Semester 1 SMP N 1 Gringsing, Batang tahun pelajaran 2011/2012.
Dari hasil perhitungan uji t untuk kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2, diperoleh t hitung = 2,4548 dan t tabel = 1,671. Dengan kriteria pengujian untuk α = 5 % diperoleh t hitung> t tabel maka H0 ditolak dan disimpulkan bahwa rata-rata hasil belajar matematika dengan model Cooperative Learning tipe Group Investigation berbantuan LKS lebih baik atau lebih efektiv daripada rata-rata hasil belajar matematika dengan Cooperative Learning tipe Listening Team berbantuan LKS. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 33.
e.  Uji t (untuk hipotesis ketiga dan kempat)
Karena pada perhitungan sebelumnya yang mengggunakan uji ANAVA diketahui bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok eksperimen I, kelompok eksperimen II, dan kelompok kontrol, maka perhitungan untuk mengetahui perbedaan rata-rata hasil belajar masing-masing kelompok dilanjutkan menggunakan uji t.
Perhitungan untuk kelompok eksperimen I dan kelompok kontrol adalah sebagai berikut :
Hasil belajar matematika yang diberi Model Pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation tidak lebih baik dari pembelajaran konvensional dengan pemanfaatan LKS pada pokok bahasan Operasi Bentuk Aljabar siswa Kelas VIII Semester 1 SMP N 1 Gringsingnn, Batang tahun pelajaran 2011/2012.
Hasil belajar matematika yang diberi Model Pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation lebih baik dari pembelajaran konvensional dengan pemanfaatan LKS pada pokok bahasan Operasi Bentuk Aljabar siswa Kelas VIII Semester 1 SMP N 1 Gringsing, Batang Kelas VIII Semester 1 SMP N 1 Gringsing, Batang tahun pelajaran 2011/2012.
Dari hasil perhitungan uji t untuk kelompok eksperimen I dan kelompok kontrol, diperoleh t hitung = 2,7057dan t tabel = 1,671. Dengan kriteria pengujian untuk α = 5 % diperoleh t hitung> t tabel maka H0 ditolak dan disimpulkan bahwa rata-rata hasil belajar matematika dengan model Cooperative Learning tipe Group Investigation berbantuan LKS lebih efektiv daripada rata-rata hasil belajar matematika dengan model konvensional. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 31.
Perhitungan untuk kelompok eksperimen II dan kelompok kontrol adalah sebagai berikut :
   Hasil belajar matematika yang diberi Model Pembelajaran kooperatif tipe Listening team tidak lebih baik dari pembelajaran konvensional dengan pemanfaatan LKS pada pokok bahasan Operasi Bentuk Aljabar siswa Kelas VIII Semester 1 SMP N 1 Gringsingnn, Batang tahun pelajaran 2011/2012.
  Hasil belajar matematika yang diberi Model Pembelajaran kooperatif tipe Listening team lebih baik dari pembelajaran konvensional dengan pemanfaatan LKS pada pokok bahasan Operasi Bentuk Aljabar siswa Kelas VIII Semester 1 SMP N 1 Gringsing, Batang tahun pelajaran 2011/2012.
Dari hasil perhitungan uji t untuk kelompok eksperimen 2 dan kelompok kontrol, diperoleh t hitung = 0,6544 dan t tabel = 1,660. Dengan kriteria pengujian untuk α = 5 % diperoleh t hitung< t tabel maka H0 ditrima dan disimpulkan bahwa rata-rata hasil belajar matematika dengan model Cooperative Learning tipe Listening Team berbantuan LKS sama efektivnya dengan rata-rata hasil belajar matematika dengan model konvensional. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 32.
f.  Ketuntasan Belajar
1) Uji ketuntasan belajar kelompok eksperimen I
a)  Ketuntasan belajar secara individu
Contoh perhitungan prosentase penguasaan siswa nomor absen 2 yaitu:
Untuk siswa nomor absen yang lainya dapat dihitung prosentase penguasaan dengan cara yang sama seperti di atas. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 34.
Ketuntasan belajar secara individual pada kelompok eksperimen Idinyatakan sudah tercapai, hal ini dikarenakan hasil belajar atau prosentase penguasaannya sudah lebih dari 65%.
b) Ketuntasan belajar secara klasikal
Perhitungan untuk menentukan prosentase penguasaan kelas adalah sebagai berikut:
Sehingga pada kelompok eksperimen I ketuntasan belajar secara klasikal dinyatakan belum tercapai tercapai, karena hasil belajar atau prosentase penguasaan kelas kurang dari 85%.
2)  Uji ketuntasan belajar kelompok eksperimen II
a)   Ketuntasan belajar secara individu
Contoh perhitungan prosentase penguasaan siswa nomor absen 28 yaitu:
Untuk siswa nomor absen yang lainya dapat dihitung prosentase penguasaan dengan cara yang sama seperti di atas. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 35.
Ketuntasan belajar secara individual pada kelompok eksperimen II dinyatakan sudah tercapai, hal ini dikarenakan hasil belajar atau prosentase penguasaannya lebih dari 65%.
b)  Ketuntasan belajar secara klasikal
Perhitungan untuk menentukan prosentase penguasaan kelas adalah sebagai berikut:
Sehingga pada kelompok eksperimen II ketuntasan belajar secara klasikal dinyatakan belum tercapai, karena hasil belajar atau prosentase penguasaan kelas kurang dari dari 85%.

3) Uji ketuntasan belajar kelompok kontrol
a)  Ketuntasan belajar secara individu
Contoh perhitungan prosentase penguasaan siswa nomor absen 14 yaitu:
Untuk siswa nomor absen yang lainya dapat dihitung prosentase penguasaan dengan cara yang sama seperti di atas. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 36
Ketuntasan belajar secara individual pada kelompok control dinyatakan sudah tercapai, hal ini dikarenakan hasil belajar atau prosentase penguasaannya sudah lebih dari 65%.
b) Ketuntasan belajar secara klasikal
Perhitungan untuk menentukan prosentase penguasaan kelas adalah sebagai berikut:
Sehingga pada kelompok kontrol ketuntasan belajar secara klasikal dinyatakan belum tercapai, karena hasil belajar atau prosentase penguasaan kelas kurang dari 85%.

E.    Pembahasan Penelitian
Berdasarkan hasil uji ANAVA diperoleh Fhitung = 4,4346 dan Ftabel = 3,44. Dengan kriteria pengujian untuk α = 5 % diperoleh Fhitung > Ftabel maka hipotesis H0 ditolak, artinya terdapat perbedaan rata – rata hasil belajar matematika antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Untuk mengetahui perbedaan rata – rata hasil belajar matematika masing – masing kelompok dilanjutkan menggunakan uji- t. Hal tersebut karena dari ketiga kelas diberikan perlakuan yang berbeda dimana pada kelas eksperimen I siswa dilibatkan langsung dengan proses diskusi, kelas eksperimen II siswa dilatih untuk menemukan konsep dengan bimbingan guru, dan kelas kontrol yang berperan aktif adalah guru, sehingga rata-rata hasil belajar siswa antar kelaspun juga berbeda.
Dari hasil perhitungan uji- t untuk siswa kelompok eksperimen I dan kelompok eksperimen II, diperoleh thitung = 2,4548 dan ttabel = 1,671. Dengan kriteria pengujian untuk α = 5 % diperoleh thitung < ttabel maka H0 ditolak, artinya rata – rata hasil belajar matematika untuk siswa kelompok eksperimen I lebih baik dari pada  rata-rata belajar matematika kelompok eksperimen II. Dapat ditunjukkan dengan rata-rata dari kelompok eksperimen I dengan rata-rata kelompok control . Hal ini disebabkan karena pada kelompok eksperimen II diberi perlakuan berupa model Listening Team berbantuan LKS, dimana model tersebut merupakan variasi diskusi kelompok yang lebih menekankan pada tanggung jawab tiap siswa dalam kelompok, artinya dimana siswa bekerja menggunakan inquiri, kooperatif, diskusi kelompok, yang bergantung pada satu atau dua individu dalam kelompok yang dianggap mampu, sehingga akan berdampak kurang positif terhadap hasil belajar siswa.
Dari hasil perhitungan uji – t untuk siswa kelompok eksperimen 1 dan kelompok kontrol, diperoleh thitung = 2,7057 dan ttabel = 1,671. Dengan kriteria pengujian untuk α = 5 % diperoleh thitung > ttabel maka H0 ditolak, artinya rata – rata hasil belajar matematika untuk siswa kelompok eksperimen I lebih baik dari pada kelompok kontrol. Dapat ditunjukkan dengan rata-rata dari kelompok eksperimen I dengan rata-rata kelompok control . Hal ini disebabkan karena pada kelompok eksperimen I diberi perlakuan berupa model Cooperative Learning tipe Group Investigation berbantuan LKS, dimana model tersebut memacu seluruh keterampilan dan kerja sama antar kelompok sehingga siswa lebih aktif dalam setiap kegiatan belajar dan mengajar.Dengan adanya keterlibatan semua siswa dalam pembelajaran akan lebih berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.
Berdasarkan hasil perhitungan uji-t untuk siswa kelompok eksperimen II dan kelompok kontrol, diperoleh thitung = 0,6544 dan ttabel = 1,671. Dengan kriteria pengujian untuk α = 5 % diperoleh thitung < ttabel maka H0 diterima, artinya rata – rata hasil belajar matematika untuk siswa kelompok eksperimen II hampir sama dengan kelompok kontrol. Dapat ditunjukkan dengan rata-rata dari kelompok eksperimen I dengan rata-rata kelompok control  Hal ini disebabkan karena pada kelompok eksperimen II dengan model Cooperative Learning type Listening Team berbantuan LKS kurang terjalin kerjasama yang kompak , dimana model tersebut melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran sehingga dengan adanya keterlibatan tersebut membuat kurangnya konsentrasi dan kerjasama antar kelompok mengakibatkan hasil belajar yang kurang maksimal.
Selanjutnya dari nilai rata-rata kelas eksperimen I (Group Investigation) adalah 72,9167; kelas eksperimen II (Listening Team) adalah 67,4054 dan kelas kontrol (Konvensional) adalah 65,7778 maka dapat diketahui bahwa rata – rata hasil belajar kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol.Sedangkan untuk ketuntasan belajar kelompok eksperimen I (Group Investigation) siswa yang tuntas belajarnya yaitu 30 orang dari 36 siswa dengan persentase 80,56%, kelompok eksperimen II (Listening Team) siswa yang tuntas belajarnya yaitu 30 orang dari 37 siswa dengan persentase 81,08% dan kelompok kontrol yang tuntas belajarnya adalah 20 orang dari 36 siswa dengan persentase 55,56%. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model Group Investigation dan Listening Team lebih baik dibandingkan dengan model konvensional ditinjau dari ketuntasan belajar klasikal pada siswa kelas VIII semester ganjil SMP Negeri 01 Gringsing, Batang tahun ajaran 2011/2012.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa rata-rata hasil belajar matematika kelompok eksperimen baik yang dikenai model pembelajaran Group Investigation maupun model Listening Team berbantuan LKS lebih baik bila dibandingkan dengan rata-rata hasil belajar matematika pada kelompok kontrol yang biasa dilakukan oleh guru (konvensional). Hal ini disebabkan karena pada kelompok eksperimen diterapkan model pembelajaran Group Investigation maupun model Listening Team berbantuan LKS dimana model tersebut memacu seluruh keterampilan dan kerja sama antar kelompok sehingga siswa lebih aktif dalam setiap pembelajaran serta dipadukan dengan penggunaan media LKS sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. 
Hasil penelitian mendukung oleh hasil penelitian yang dilakukan Ridwan Abdul Ghoni “Penerapan Model Cooperative Learning Tipe Group Investigation Technique Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa di Sekolah Dasar” yang menunjukkan bahwa Model pembelajaran Cooperative Learning tipe Group Investigation Technique, yaitu suatu pembelajaran yang dilakukan guru dalam melakukan interaksi dengan siswa dengan cara memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerjasama dalam kelompok kecil untuk menyelesaikan tugas. Siswa yang daya tangkapnya cepat diberi kesempatan untuk membantu siswa yang lambat, sehingga melalui model pembelajaran ini siswa dapat memahami materi yang disampaikan oleh guru dan dapat menyelesaikan tugas dengan benar.(Ghoni:2011: 3-4)
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Qosim Mubarok berjudul " Pengaruh Strategi Pembelajaran Listening Team Terhadap Minat Belajar Siswa Pada Materi PAI di SD Darul Ulum Bungurasih Sidoarjo”  juga mendukung Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran listening team di SD Darul Ulum Bungurasih Sidoarjo dalam pelaksanaannya dapat berjalan efektif dan efisien atau tergolong baik, karena hasil perhitungan prosentase menunjukkan antara 56 – 100% sedangkan prosentase perhitungan minat belajar siswa pada materi PAI pada per item pertanyaan nilai yang diperoleh berada antara 56 % - 75 % dengan kriteria tergolong cukup. (Mubarok:2009: 2)
Pembelajaran yang dilaksanakan pada kelas kontrol yaitu pembelajaran menggunakan model konvensional belum dapat memotivasi siswa untuk aktif terlibat dalam pembelajaran. Pembelajaran pada kelas kontrol memang membuat siswa lebih tenang karena guru yang memegang kendali kelas. Siswa hanya duduk dan memperhatikan penjelasan guru. Namun pemahaman siswa yang kurang tidak cukup teratasi. Siswa yang belum paham kadang-kadang takut atau malu untuk bertanya pada guru. Hal ini mengakibatkan kemampuan siswa yang kurang tidak bisa meningkat dan kemampuan siswa tidak merata. Sehingga guru juga kurang memahami siswa yang mana saja yang belum cukup menyerap materi.
Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematika antara siswa yang diberikan model pembelajaran Group Investigation, Listening Team dan model konvensional. Berdasarkan hasil analisis diperoleh kemampuan pemecahan masalah matematika pada siswa yang diberikan model pembelajaran Group Investigation lebih baik dibandingkan siswa yang diberikan model pembelajaran Listening Team dan model konvensional. Sementara itu kemampuan pemecahan masalah matematika pada siswa yang diberikan model pembelajaran Group Investigation lebih baik dibandingkan siswa yang diberikan model pembelajaran konvensional.




































BAB V
PENUTUP

A.  Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.    Terdapat perbedaan hasil belajar pada siswa yang diberikan model pembelajaran Group Investigation, Listening Team, dan model pembelajaran konvensional. Dengan menggunakan` uji F dan didapatkan Ho ditolak dan Ha diterima ini berarti ada perbedaan yang signifikan antara ketiga model pembelajaran.
2.    Melalui uji t untuk kelompok eksperimen I dan kelompok eksperimen II di dapatkan H0 ditolak dan dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar matematika untuk siswa yang dikenai model kooperatif tipe Group Investigation dengan berbantuan LKS lebih baik daripada hasil belajar model kooperatif tipe Group Investigation dengan berbantuan LKS.
3.    Melalui uji t untuk kelompok eksperimen I dan kelompok kontrol di dapatkan H0 ditolak dan dapat disimpulkan bahwa rata-rata hasil belajar matematika untuk siswa yang dikenai model kooperatif tipe Group Investigation dengan berbantuan LKS lebih baik daripada model konvensional.
4.   
85
 
Melalui uji t untuk kelompok eksperimen II dan kelompok kontrol di dapatkan H0 diterima dan dapat disimpulkan bahwa rata-rata hasil belajar matematika untuk siswa yang dikenai model kooperatif tipe Listening Team dengan berbantuan LKS sama efektif dengan model konvensional. Hal tersebut dikarnakan sebagian besar siswa dalalm eksperimen ke dua kurang aktif dalam pembelajaran, sehingga tujuan pembelajaran kurang tercapai.
5.    ketuntasan belajarnya dapat dikatakan bahwa secara klasikal kelompok eksperimen I, kelompok eksperimen II dan kelompok kontrol belum dapat memenuhi kriteria belajar tuntas secara klasikal, karena prosentase ketuntasan belajar kurang dari 85% yaitu sebesar 80,56%; 81,08%; dan 55,56%.

B.  Saran
Dari hasil penelitian, maka saran yang dapat diajukan adalah sebagai berikut:
1.      Kepada para pengajar sebaiknya menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dan Listening Team dengan pemanfaatan LKS sebagai alternatif dalam proses belajar mengajar karena dapat diperoleh nilai rata-rata siswa yang menggunakan model pembelajaran baik Group Investigation dan Listening Team dengan pemanfaatan LKS lebih baik dari rata-rata siswa model konvensional.
2.      Kepada para pengajar dapat menggunakan model pembelajaran dan media LKS yang sekiranya dapat membantu dalam proses belajar siswa, sehingga model tersebut dapat menarik minat belajar siswa.
3.      Sebaiknya penelitian ini dikembangkan lebih lanjut pada meteri dan populasi yang lebih luas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar